Tubuh dan Manusia

Tubuh dan Manusia: Antara Mekanisme Alami dan Aturan Kehidupan

Tubuh manusia adalah ciptaan Allah SWT yang dirancang untuk menjalankan mekanisme kehidupan dengan sempurna. Mekanisme kerja tubuh hanya satu: memelihara, menjaga, dan mempertahankan eksistensi kehidupan serta oksigenasi sel tubuh. Dalam fitrah kehidupan, setiap yang hidup akan berusaha untuk bertahan hidup. Tubuh tidak bekerja berdasarkan batasan nilai atau angka tertentu, tetapi berdasarkan kebutuhan dan kemampuan terbaiknya untuk mempertahankan kehidupan.

Kecerdasan Tubuh yang Tidak Terbatas
Tubuh tidak mengenal batasan angka seperti nilai gula darah, tekanan darah, atau parameter lainnya yang ditentukan oleh standar medis modern. Justru adanya standar nilai tertentu sering kali membatasi, mengkerdilkan, dan bahkan melemahkan kemampuan tubuh untuk hidup dan bertahan.

Sebagai contoh, ketika kadar gula darah naik, tubuh sedang berusaha merespons kebutuhan tertentu, misalnya kekurangan oksigen (hipoksia). Ini adalah mekanisme alami tubuh untuk menyediakan energi yang cukup demi mempertahankan kehidupan sel. Namun, medis modern sering kali menganggap naiknya kadar gula darah sebagai kondisi berbahaya yang harus segera diatasi dengan obat-obatan.

Penggunaan obat-obatan penurun gula darah memaksa tubuh untuk menyesuaikan diri dengan standar nilai tertentu yang dianggap normal. Padahal, tubuh menaikkan kadar gula darah bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap kondisi tertentu demi menjaga eksistensi kehidupan. Memaksa tubuh untuk “normal” dengan intervensi obat bukan hanya bertentangan dengan fitrah tubuh, tetapi juga merusak mekanisme alami tubuh itu sendiri.

Batasan pada Manusia, Kebebasan pada Tubuh
Berbeda dengan tubuh, manusia sebagai makhluk hidup membutuhkan aturan, nilai, dan norma untuk menjaga martabatnya. Tanpa aturan, manusia cenderung bertindak semaunya, yang akhirnya membawa pada kerusakan diri sendiri dan dunia.

Allah SWT telah menetapkan aturan-aturan yang sesuai dengan fitrah manusia melalui syariat-Nya. Aturan ini memberikan batasan yang jelas tentang bagaimana manusia seharusnya hidup, berinteraksi, dan menjaga diri. Tanpa aturan ini, manusia kehilangan arah, menjadi liar, dan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri serta lingkungannya.

Sebaliknya, tubuh justru tidak membutuhkan batasan nilai tertentu untuk bekerja. Tubuh mengikuti mekanisme Sunatullah yang telah ditanamkan oleh Sang Pencipta. Selama tubuh masih memiliki kemampuan, ia akan terus beradaptasi dan berusaha mempertahankan kehidupannya. Misalnya, ketika tubuh kekurangan oksigen, ia akan menaikkan kadar gula darah sebagai energi tambahan. Namun, intervensi medis yang memaksa tubuh “menurunkan” kadar gula darah tanpa memperbaiki penyebab kekurangan oksigen justru dapat merusak tubuh secara perlahan.

Dampak Pengabaian Fitrah
Ketika manusia hidup tanpa aturan yang benar, maka kerusakan dan ketidakadilan pun terjadi. Hal ini tidak hanya berdampak pada lingkungan dan hubungan sosial, tetapi juga pada tubuh manusia itu sendiri. Tubuh adalah manifestasi kehidupan manusia. Jika tubuh dirusak, maka eksistensi manusia pun terancam.

Kerusakan pada tubuh sering kali dimulai dari ketergantungan pada obat-obatan yang memaksa tubuh untuk menyesuaikan diri dengan nilai tertentu, padahal nilai tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Misalnya, obat penurun kadar gula darah dapat menyebabkan hipoglikemia, yang pada akhirnya merusak organ vital seperti otak, ginjal, dan jantung. Ini adalah bukti nyata bahwa intervensi yang tidak sesuai dengan fitrah tubuh akan membawa kerusakan, bukan kebaikan.

Manusia yang Mulia dalam Aturan Allah SWT
Agar hidup manusia bermartabat, ia harus hidup dalam batasan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Aturan ini bukan sekadar untuk mengatur perilaku, tetapi juga untuk menjaga keharmonisan antara tubuh, jiwa, dan lingkungan.

Aturan yang berasal dari manusia cenderung memberikan kebebasan yang tidak terarah. Kebebasan ini sering kali berujung pada eksploitasi, ketidakadilan, dan kerusakan. Sebaliknya, aturan Allah SWT dirancang untuk memuliakan manusia dan menjaga keberlangsungan hidupnya dalam harmoni.

Sebagai makhluk yang diberikan akal, manusia seharusnya menyadari bahwa aturan Allah SWT adalah satu-satunya jalan untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. Dengan menjalankan aturan ini, manusia tidak hanya menjaga tubuhnya tetap sehat, tetapi juga menjaga hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitarnya.

Kesimpulan
Tubuh manusia adalah sistem yang luar biasa, yang dirancang untuk mempertahankan kehidupannya tanpa batasan nilai tertentu. Setiap perubahan dalam tubuh adalah bagian dari mekanisme alami untuk bertahan hidup. Namun, intervensi medis yang memaksa tubuh untuk mengikuti standar nilai tertentu sering kali merusak mekanisme alami tubuh itu sendiri.

Sebaliknya, manusia sebagai makhluk berakal membutuhkan batasan dan aturan untuk hidup secara bermartabat. Aturan ini hanya bisa berasal dari Sang Pencipta, yaitu Allah SWT, yang menciptakan manusia dengan fitrah yang sempurna. Dengan menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah, manusia dapat menjaga tubuhnya, menjalani kehidupan yang mulia, dan mencapai kebahagiaan dunia serta akhirat.

Hidup dalam keselarasan antara tubuh, jiwa, dan aturan Allah adalah kunci kehidupan yang sejati. Mari kita kembali pada fitrah dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran serta ketaatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *