Neuropati dan Gula Darah: Memahami Sebab yang Sebenarnya
Dalam dunia medis konvensional, neuropati sering dikaitkan dengan kadar gula darah tinggi. Namun, jika kita memahami tubuh secara rasional dan selaras dengan fitrah, kita akan menemukan bahwa naiknya gula darah bukanlah penyebab kerusakan, melainkan mekanisme tubuh untuk bertahan hidup dan menjaga keseimbangan.
Gula Darah Bukan Penyebab Kerusakan
Gula darah adalah bagian dari tubuh dan berperan penting dalam berbagai proses biologis, termasuk membantu transfer oksigen dari sel darah merah ke sel-sel tubuh. Karena gula darah hanyalah benda pasif, ia tidak memiliki kemampuan untuk merusak. Yang berpotensi menyebabkan kerusakan bukanlah benda atau zat tertentu, tetapi perbuatan atau aktivitas yang tidak sesuai dengan fitrah tubuh.
Oleh karena itu, fokus dalam menjaga kesehatan bukanlah menurunkan angka gula darah dengan obat-obatan atau intervensi medis, tetapi mengatur aktivitas dan kebiasaan agar sesuai dengan mekanisme alami tubuh.
Kasus Nyata: Neuropati Setelah Penurunan Drastis Gula Darah
Ada sebuah kasus di mana seseorang hidup dengan gula darah berkisar antara 300-400 mg/dL tanpa mengalami masalah serius. Namun, setelah mengalami suatu kejadian yang menyebabkan pingsan, ia mendapatkan injeksi insulin. Hasilnya, bukan membaik, justru kondisinya memburuk hingga koma selama 8 hari.
Setelah kembali sadar dan menjalani perawatan, ia harus menerima injeksi insulin 4 kali sehari, yang justru membuatnya semakin stres. Gula darah yang awalnya stabil di angka tinggi malah menjadi fluktuatif setelah terapi insulin. Setelah menghentikan penggunaan obat dan insulin, kondisinya membaik, tetapi ia masih takut dengan gula darah tinggi. Ketakutan ini membuatnya menjalani diet ekstrem, yang akhirnya menurunkan gula darahnya hingga 160 mg/dL secara drastis. Tak lama setelah itu, ia mengalami gejala yang oleh dokter didiagnosis sebagai neuropati.
Dari kasus ini, kita bisa melihat bahwa bukan gula darah tinggi yang menyebabkan neuropati, melainkan perubahan drastis yang memaksa tubuh untuk beradaptasi secara mendadak. Penurunan gula darah yang terlalu cepat berpotensi menyebabkan hipoksia—kekurangan oksigen di tingkat sel—yang pada akhirnya merusak saraf tepi dan menyebabkan gejala neuropati.
Neuropati: Akibat Hipoksia, Bukan Gula Darah Tinggi
Kerusakan dan kematian sel selalu terjadi karena hipoksia, bukan karena gula darah tinggi. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang gula darahnya dipaksa turun dengan cepat justru mengalami masalah saraf, sedangkan ketika gula darahnya tinggi tetapi stabil, tubuhnya tetap berfungsi dengan baik.
Penggunaan obat-obatan seperti insulin, obat penurun gula darah, penurun kolesterol, dan antihipertensi justru memperburuk kondisi hipoksia dengan menghambat mekanisme alami tubuh dalam menyesuaikan diri. Inilah mengapa pendekatan medis konvensional sering kali menghasilkan efek samping yang lebih besar daripada manfaatnya.
Solusi: Mengembalikan Perbuatan agar Sesuai dengan Fitrah
Karena yang menyebabkan kerusakan adalah perbuatan, maka solusi yang tepat adalah mengubah perbuatan, bukan mengganti atau menekan gula darah dengan benda atau zat lain. Aktivitas dan kebiasaan harus diatur agar selaras dengan mekanisme alami tubuh dan tunduk pada aturan yang sesuai dengan fitrah kehidupan.
Dalam Islam, setiap perbuatan harus tunduk dan patuh kepada hukum Syara’. Ini berarti bahwa dalam menjaga kesehatan, kita tidak boleh hanya berfokus pada angka atau parameter medis semata, tetapi harus melihat bagaimana pola hidup kita sudah sesuai atau belum dengan hukum Allah dan fitrah tubuh.
Sebagai langkah konkret:
Hentikan ketakutan terhadap gula darah tinggi. Jika tubuh sudah beradaptasi dengan kondisi tertentu, tidak perlu panik hanya karena angka pada alat ukur.
Jangan paksa tubuh untuk menyesuaikan diri dengan standar yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Penurunan drastis gula darah bukanlah solusi, tetapi justru pemicu masalah lain.
Perbaiki kebiasaan dan aktivitas. Fokus pada pola makan yang alami, pergerakan yang wajar, dan menghindari intervensi yang menghambat mekanisme alami tubuh.
Jaga sirkulasi dan suplai oksigen. Aktivitas yang mendukung aliran darah dan optimalisasi oksigenasi sel jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menekan angka gula darah dengan obat-obatan.
Kesimpulan
Neuropati bukanlah akibat dari gula darah tinggi, tetapi dari hipoksia yang terjadi karena intervensi yang mengganggu mekanisme tubuh. Oleh karena itu, solusi yang benar bukanlah menekan gula darah, tetapi mengembalikan kebiasaan hidup agar sesuai dengan fitrah.
Sehat bukan sekadar tentang angka, tetapi tentang bagaimana kita menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah dan mekanisme alami tubuh. Jika aktivitas kita selaras dengan fitrah, tubuh akan berfungsi dengan baik tanpa perlu manipulasi yang justru merusaknya.
Back to Fitrah
Jombang, 25 2 2025